5 Model AI China yang Populer di Platform Global
Model kecerdasan buatan (AI) asal China semakin mendapat perhatian dari pengguna dan pengembang di pasar global. Sejumlah model bahkan mencatat penggunaan tinggi pada platform pengembangan AI, menunjukkan persaingan industri yang semakin ketat dengan perusahaan teknologi Amerika Serikat.
Data OpenRouter yang dikutip Global Times menunjukkan lima model teratas dalam peringkat penggunaan mingguan berasal dari perusahaan China. Daftar tersebut mencakup DeepSeek V4 Flash, Xiaomi MiMo V2.5, Tencent Hy3, DeepSeek V4 Pro, dan GLM 5.2 dari Z.ai.
Peringkat tersebut dihitung berdasarkan jumlah token yang diproses melalui OpenRouter, termasuk token pada prompt dan hasil keluaran model. Karena itu, data tersebut lebih tepat menggambarkan aktivitas penggunaan di platform tersebut, bukan keseluruhan popularitas AI di dunia.
Baca Juga “ITEBA Gandeng OptiStream AI Siapkan Talenta Digital Masa Depan“
DeepSeek V4 Flash Memimpin Penggunaan Token
DeepSeek V4 Flash menempati posisi pertama dalam data yang dikutip tersebut. Model ini mencatat penggunaan sekitar 7,22 triliun token di OpenRouter.
Performa tersebut datang bersamaan dengan strategi harga yang agresif. Reuters melaporkan bahwa DeepSeek V4 Flash memiliki biaya sekitar US$0,14 per satu juta token input dan US$0,28 per satu juta token output.
Biaya tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah model AI populer lainnya. Efisiensi harga menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong pengembang memilih model dengan kemampuan tinggi tetapi biaya operasional lebih rendah.
DeepSeek juga menempatkan V4 Pro dalam lima besar versi yang dikutip dari data OpenRouter. V4 Pro dirancang untuk menangani kebutuhan yang lebih kompleks, termasuk pemrograman dan tugas berbasis AI agent.
Xiaomi MiMo V2.5 Masuk Peringkat Teratas
Model MiMo V2.5 dari Xiaomi menempati posisi kedua dalam daftar penggunaan yang dikutip. Masuknya Xiaomi menunjukkan bahwa kompetisi AI China tidak hanya datang dari perusahaan yang sejak awal dikenal sebagai pengembang model bahasa besar.
OpenRouter sendiri menempatkan MiMo V2.5 di posisi pertama dalam koleksi model pemrograman berdasarkan data penggunaan pengembang pada Juli 2026. Model tersebut mencatat sekitar 3,93 triliun token dalam kategori tersebut.
Perbedaan peringkat berdasarkan kategori menunjukkan bahwa popularitas model AI dapat berubah sesuai jenis pekerjaan dan platform yang digunakan. Karena itu, satu daftar tidak dapat menjadi ukuran tunggal untuk menentukan model AI terbaik secara keseluruhan.
Tencent Hy3 Melaju Cepat Setelah Dirilis
Tencent Hy3 juga masuk dalam jajaran lima model teratas pada data OpenRouter yang dikutip. Model tersebut memperlihatkan bagaimana perusahaan teknologi besar China semakin aktif memasuki persaingan model AI generatif.
Kecepatan sebuah model memperoleh pengguna menjadi indikator penting dalam persaingan AI. Model yang baru tersedia dapat dengan cepat memperoleh perhatian apabila menawarkan kombinasi kemampuan, biaya, aksesibilitas, dan lisensi yang menarik bagi pengembang.
Hy3 juga tercatat dalam daftar model pemrograman OpenRouter. Dalam data tersebut, model Tencent berada di posisi keenam dengan sekitar 378 miliar token penggunaan.
DeepSeek V4 Pro Menyasar Tugas AI Kompleks
DeepSeek V4 Pro berada di posisi keempat dalam daftar penggunaan yang dikutip dari OpenRouter. Model ini menjadi pasangan penting bagi V4 Flash dalam portofolio terbaru DeepSeek.
Jika V4 Flash menonjol dari sisi efisiensi biaya, V4 Pro diarahkan untuk kebutuhan yang lebih berat. Penggunaan tersebut mencakup pemrograman, penalaran, dan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan AI agent.
Persaingan model AI saat ini tidak hanya berfokus pada skor benchmark. Biaya penggunaan, kecepatan respons, kemampuan menjalankan tugas panjang, dukungan multimodal, serta kemudahan integrasi juga menjadi pertimbangan pengembang.
GLM 5.2 Z.ai Perkuat Persaingan Model China
GLM 5.2 dari Z.ai melengkapi lima besar model China dalam data OpenRouter tersebut. Model ini juga menunjukkan kuatnya posisi perusahaan China di kategori model AI yang digunakan untuk pekerjaan teknis.
Data OpenRouter untuk model pemrograman menempatkan GLM 5.2 di posisi kedua pada pembaruan Juli 2026. Model tersebut mencatat sekitar 745 miliar token penggunaan dalam kategori tersebut.
Kehadiran beberapa model China sekaligus memperlihatkan bahwa persaingan tidak hanya ditentukan oleh satu perusahaan. DeepSeek, Xiaomi, Tencent, dan Z.ai menawarkan pendekatan berbeda untuk memenuhi kebutuhan pengembang.
Model Open-Source China Juga Menarik Perhatian
Popularitas model AI China tidak hanya terlihat dari penggunaan API. Model dengan bobot terbuka juga memperoleh perhatian besar dari komunitas pengembang global.
Kimi K3 dari Moonshot AI menjadi salah satu contoh terbaru. Model tersebut memiliki 2,8 triliun parameter dengan 104 miliar parameter aktif dan konteks hingga satu juta token.
Tim Kimi menyatakan K3 menggunakan arsitektur Mixture-of-Experts serta dirancang untuk tugas seperti pemrograman, AI agent, penalaran, dan pemrosesan visual. Bobot model tersebut dirilis untuk mendukung penelitian dan adopsi yang lebih luas.
Perkembangan Kimi K3 juga menunjukkan tingginya minat terhadap model AI open-source China. AP melaporkan bahwa Moonshot AI sempat menghentikan sementara pendaftaran pelanggan baru setelah permintaan terhadap Kimi K3 melonjak.
Industri AI China Tumbuh dengan Dukungan Ekosistem Besar
Pertumbuhan model AI China didukung oleh perkembangan industri yang lebih luas. Pemerintah China menyebut jumlah perusahaan AI di negara tersebut telah melampaui 6.200 perusahaan pada 2025.
Pada tahun yang sama, nilai industri inti AI China melampaui 1,2 triliun yuan. Pemerintah juga melaporkan kapasitas komputasi cerdas negara tersebut mencapai 1.590 EFLOPS.
AI juga semakin diterapkan pada berbagai sektor industri. Penggunaannya mencakup manufaktur, energi, telekomunikasi, penelitian dan pengembangan produk, pemeriksaan kualitas, hingga layanan pelanggan.
Skala tersebut memberikan basis pengguna, data, infrastruktur, dan skenario penerapan yang dapat membantu perusahaan mengembangkan serta menguji model AI dalam jumlah besar.
China Unggul dalam Jumlah Paten AI
China juga memiliki posisi kuat dalam jumlah paten yang berkaitan dengan AI. Laporan Digital China Development Report 2025 menyebut China memiliki sekitar 60 persen dari total paten AI global.
Laporan tersebut juga mencatat nilai industri inti AI China telah melampaui 1,2 triliun yuan. Data ini menunjukkan bahwa pengembangan AI di China berlangsung tidak hanya pada sisi perangkat lunak, tetapi juga melalui aktivitas penelitian dan inovasi yang luas.
Namun, jumlah paten tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seluruh teknologi AI China lebih unggul. Dampak teknologi juga perlu dilihat dari kualitas inovasi, adopsi pengguna, kemampuan komersialisasi, dan pengaruh terhadap perkembangan industri.
Open-Source Menjadi Strategi Penting Perusahaan China
Salah satu karakteristik yang menonjol dari perkembangan AI China adalah penggunaan pendekatan open-source atau open-weight oleh sejumlah perusahaan. Strategi tersebut dapat memberikan akses lebih luas kepada pengembang untuk menguji dan mengintegrasikan model.
Model dengan bobot terbuka juga memungkinkan komunitas melakukan penyesuaian untuk kebutuhan tertentu. Hal ini dapat mempercepat eksperimen dan memperluas ekosistem di luar layanan yang dikendalikan langsung oleh pembuat model.
Baca Juga “Bukan Sekadar Teknologi, Generative AI Mulai Mengubah Cara Orang Indonesia Membuat Film“