Adopsi AI Meningkat Pesat, Shadow AI dan Infrastruktur Jadi Tantangan Sektor Keuangan
Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus meningkat di industri jasa keuangan global. Berbagai lembaga keuangan memanfaatkan AI untuk mempercepat analisis data, meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan layanan pelanggan, hingga memperkuat pengambilan keputusan bisnis. Namun, di balik laju adopsi tersebut, muncul tantangan besar berupa kesiapan infrastruktur dan tata kelola teknologi yang belum memadai.
Laporan terbaru Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) edisi kedelapan yang dirilis Nutanix menunjukkan banyak organisasi keuangan belum memiliki fondasi teknologi yang cukup kuat untuk mendukung implementasi AI dalam skala besar. Kondisi tersebut membuka peluang munculnya berbagai risiko baru, termasuk fenomena Shadow AI, yang kini menjadi perhatian utama para pemimpin teknologi informasi.
Riset global tersebut dilakukan oleh Wakefield Research pada November 2025 dengan melibatkan 1.600 eksekutif bidang cloud, teknologi informasi, dan engineering dari organisasi yang memiliki lebih dari 500 karyawan di 14 negara, termasuk Amerika Serikat, Singapura, Jepang, dan Australia.
baca juga”Samsung Pertahankan Teknologi Terjangkau di Tengah Kenaikan Biaya“
Shadow AI Meningkat Seiring Pesatnya Penggunaan AI
Salah satu temuan penting dalam laporan tersebut adalah meningkatnya penggunaan Shadow AI di lingkungan perusahaan.
Shadow AI merupakan penggunaan aplikasi atau layanan berbasis kecerdasan buatan oleh karyawan tanpa persetujuan maupun pengawasan dari departemen teknologi informasi perusahaan. Praktik ini biasanya dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kerja, tetapi berpotensi menimbulkan risiko keamanan data dan kepatuhan terhadap regulasi.
Sebanyak 66 persen eksekutif TI mengaku menemukan praktik Shadow AI di organisasi mereka. Bahkan, 86 persen responden menilai fenomena tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius bagi bisnis.
Risiko yang muncul tidak hanya berupa kebocoran data perusahaan, tetapi juga pelanggaran terhadap kebijakan keamanan informasi, perlindungan data pelanggan, hingga ketidakpatuhan terhadap regulasi yang berlaku di masing-masing negara.
Meningkatnya penggunaan berbagai layanan AI generatif secara mandiri oleh karyawan menjadi tantangan baru bagi perusahaan. Tanpa kebijakan yang jelas, data sensitif berpotensi diproses melalui platform eksternal yang tidak berada di bawah pengawasan organisasi.
Hambatan Adopsi AI Bukan Lagi Soal Teknologi
Laporan Nutanix juga menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam memperluas implementasi AI ternyata bukan berasal dari keterbatasan teknologi.
Sebanyak 38 persen responden menyebut kompleksitas proses bisnis menjadi penghambat utama. Sementara itu, 34 persen lainnya mengaku kendala berasal dari aspek organisasi, seperti kurangnya kepemimpinan, minimnya kompetensi AI, dan belum siapnya sumber daya manusia.
Sebaliknya, kendala teknis hanya disebut oleh sekitar 28 persen responden.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi terbaru. Organisasi juga perlu membangun budaya kerja yang mendukung inovasi, meningkatkan kompetensi karyawan, serta menyusun tata kelola AI yang jelas.
Kedaulatan Data Menjadi Isu Strategis
Selain Shadow AI, laporan tersebut juga menyoroti persoalan kedaulatan data atau data sovereignty.
Sebanyak 79 persen organisasi menyatakan bahwa perlindungan dan lokasi penyimpanan data menjadi prioritas utama dalam strategi teknologi mereka. Namun, terdapat kontradiksi karena 62 persen organisasi masih menjalankan sebagian besar beban kerja berbasis kontainer di layanan public cloud.
Kondisi tersebut memunculkan istilah Sovereignty Debt atau utang kedaulatan data.
Konsep ini menggambarkan situasi ketika perusahaan memiliki komitmen tinggi terhadap perlindungan data, tetapi implementasi infrastrukturnya belum sepenuhnya mendukung kepatuhan terhadap aturan penyimpanan dan pengelolaan data di wilayah tertentu.
Jika tidak segera diatasi, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko hukum maupun regulasi di masa mendatang, terutama di industri keuangan yang memiliki standar kepatuhan sangat ketat.
Infrastruktur AI Masih Belum Memadai
Kesiapan infrastruktur juga menjadi tantangan besar bagi organisasi keuangan.
Sebanyak 68 persen responden mengaku infrastruktur on-premises yang mereka miliki belum siap mendukung kebutuhan komputasi AI modern.
Akibat keterbatasan tersebut, sekitar 64 persen perusahaan masih mengandalkan penyedia layanan pihak ketiga untuk menjalankan berbagai beban kerja AI.
Ketergantungan terhadap layanan eksternal memang dapat mempercepat implementasi teknologi. Namun, perusahaan tetap harus memastikan keamanan data, kepatuhan regulasi, serta fleksibilitas sistem agar tidak menimbulkan ketergantungan jangka panjang terhadap satu penyedia layanan.
Teknologi Kontainer Dinilai Menjadi Fondasi AI Modern
Laporan tersebut menunjukkan bahwa teknologi kontainer semakin berperan penting dalam mendukung implementasi AI.
Sebanyak 90 persen responden menyatakan AI mendorong percepatan adopsi teknologi kontainer. Selain itu, 89 persen memperkirakan tren tersebut akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Kontainer memungkinkan aplikasi AI dijalankan secara lebih fleksibel di berbagai lingkungan, baik pusat data internal maupun cloud publik dan hybrid cloud.
Pendekatan ini membantu perusahaan meningkatkan skalabilitas, efisiensi operasional, serta mempermudah pengelolaan berbagai aplikasi AI secara bersamaan.
Nutanix: Persaingan AI Kini Ditentukan oleh Infrastruktur
Vice President & General Manager Asia Pacific and Japan (APJ) Nutanix, Jay Tuseth, menilai persaingan implementasi AI kini telah memasuki fase baru.
Menurutnya, organisasi tidak lagi bersaing dalam menciptakan model AI paling canggih, melainkan dalam kemampuan menerapkan teknologi tersebut secara aman, efisien, dan sesuai regulasi.
Ia menjelaskan bahwa organisasi perlu membangun platform berbasis kontainer yang mampu mengintegrasikan berbagai beban kerja AI di lingkungan hybrid cloud.
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko Shadow AI sekaligus menjaga kepatuhan terhadap aturan perlindungan data di masing-masing wilayah.
Jay Tuseth juga menegaskan bahwa organisasi yang mampu menyelaraskan strategi AI dengan infrastruktur dan tata kelola data akan memiliki keunggulan kompetitif dibanding perusahaan yang hanya berfokus pada investasi komputasi.
Tata Kelola AI Menjadi Kunci Transformasi Digital
Pesatnya adopsi AI membuka peluang besar bagi sektor keuangan untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi layanan. Namun, keberhasilan implementasi teknologi ini tidak hanya bergantung pada kecanggihan model AI yang digunakan.
Perusahaan juga harus memastikan kesiapan infrastruktur, memperkuat keamanan siber, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, serta menerapkan kebijakan tata kelola AI yang jelas.
Fenomena Shadow AI menjadi pengingat bahwa transformasi digital harus berjalan seiring dengan pengawasan dan kepatuhan terhadap regulasi. Tanpa fondasi tersebut, manfaat AI justru dapat berubah menjadi sumber risiko baru bagi organisasi.
Ke depan, perusahaan yang mampu membangun infrastruktur modern, mengelola data secara bertanggung jawab, serta menerapkan AI sesuai prinsip keamanan dan kepatuhan diperkirakan akan menjadi pemimpin dalam era transformasi digital yang semakin kompetitif.
baca juga”Steam Summer Sale 2026 Mulai Hari Ini 26 Juni, Cek Harga Game Incaran“