Bebek AI Prancis Microduck Laris di China, Dorong Tren Robot Personal
Robot personal berbentuk bebek bernama Microduck mencuri perhatian pasar teknologi setelah mencatat penjualan lebih dari 10.000 unit hanya beberapa hari setelah peluncuran. Produk ini dikembangkan oleh Pollen Robotics dan Hugging Face dengan konsep robot AI yang dapat diprogram dan dikembangkan lebih lanjut.
Baca Juga “Dari Teknologi Sederhana Menuju Era AI“
Hugging Face menyebut penjualan Microduck telah menghasilkan nilai lebih dari US$5 juta. Tingginya permintaan bahkan membuat jadwal pengiriman pesanan baru bergeser dari target awal yang ditetapkan untuk Natal 2026.
Microduck dipasarkan dengan harga US$399 atau sekitar Rp7 juta per unit. Dengan bobot sekitar 800 gram, perangkat tersebut membawa sensor, motor, serta sistem komputasi yang memungkinkan sejumlah proses kecerdasan buatan berlangsung langsung di perangkat.
Microduck Mengandalkan Chip Rockchip untuk AI di Perangkat
Salah satu komponen penting Microduck adalah chip RK3566 buatan Rockchip, perusahaan semikonduktor asal China. Chip tersebut menjadi bagian dari sistem komputasi robot untuk menjalankan berbagai fungsi yang membutuhkan pemrosesan data secara lokal.
RK3566 menggunakan teknologi yang dilisensikan dari ARM, perusahaan semikonduktor asal Inggris. Penggunaan komponen tersebut memperlihatkan bagaimana produk robotika modern masih bergantung pada rantai pasok lintas negara.
Kondisi itu juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi AI tidak berlangsung secara terpisah berdasarkan wilayah. Perusahaan dari Prancis, Amerika Serikat, China, dan Inggris dapat berkontribusi pada satu perangkat melalui kombinasi desain, perangkat lunak, prosesor, serta lisensi teknologi.
Rantai pasok seperti ini menjadi semakin penting ketika industri teknologi global menghadapi persaingan geopolitik dan pembatasan perdagangan. Produk konsumen yang terlihat sederhana di sisi luar dapat menggunakan komponen dari beberapa negara sekaligus.
Rockchip Dinilai Penting untuk Teknologi Edge AI
Analis Omdia Lian Jye Su menilai Rockchip menjadi salah satu pemasok penting bagi teknologi AI yang diproses langsung pada perangkat atau edge AI. Teknologi tersebut memungkinkan perangkat mengolah data tanpa selalu bergantung pada pusat data atau layanan cloud.
Menurut Su, chip Rockchip memiliki jejak penggunaan yang luas, termasuk pada teknologi visi mesin. Kemampuan tersebut dapat digunakan untuk mendukung pendeteksian objek dan pengenalan gambar.
“Meski memiliki jejak yang sangat luas, chip perusahaan ini tidak dirancang untuk perangkat edge AI yang kompleks karena kekurangan sumber daya komputasi,” kata Su, seperti dikutip CNBC International pada Kamis (3/9/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan sebuah chip tidak hanya ditentukan oleh keberadaan akselerator AI. Kapasitas komputasi, efisiensi energi, memori, perangkat lunak, dan kemampuan menjalankan model AI juga menentukan fungsi akhir perangkat.
Dalam konteks robot personal, pemrosesan lokal memiliki sejumlah manfaat. Robot dapat mengolah sebagian data sensor dan perintah pengguna tanpa harus mengirimkan seluruh informasi ke server eksternal.
Pendekatan tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap koneksi internet. Pemrosesan lokal juga dapat membantu mengurangi latensi ketika robot harus merespons input secara langsung.
Namun, kemampuan edge AI tetap memiliki keterbatasan. Model AI berukuran besar membutuhkan sumber daya komputasi yang jauh lebih tinggi sehingga perangkat kecil harus menggunakan model yang lebih ringan atau mengombinasikan pemrosesan lokal dengan cloud.
Penjualan Microduck Tembus 10.000 Unit
Daya tarik Microduck terlihat dari kecepatan penjualannya. Hugging Face menyebut produk tersebut telah terjual lebih dari 10.000 unit dalam beberapa hari setelah diperkenalkan.
Nilai penjualan yang dilaporkan telah melampaui US$5 juta. Angka tersebut menunjukkan adanya minat konsumen terhadap robot personal yang tidak sekadar menawarkan fungsi hiburan.
Permintaan yang tinggi juga berdampak pada jadwal pengiriman. Pesanan baru dilaporkan tidak lagi dapat memenuhi target pengiriman awal sekitar Natal 2026.
Harga US$399 membuat Microduck berada pada kategori produk teknologi konsumen yang relatif lebih terjangkau dibandingkan sejumlah robot humanoid berukuran besar. Strategi tersebut dapat membantu memperluas pasar robotika kepada pengembang, penggemar teknologi, dan pengguna umum.
Bukan Sekadar Robot Mainan
Microduck dirancang sebagai platform pengembangan dengan perangkat lunak sumber terbuka. Pendekatan tersebut membedakannya dari perangkat robot konsumen yang hanya menawarkan fungsi tertentu sejak keluar dari kotak.
Konsep platform memungkinkan pengguna dan pengembang mengeksplorasi fungsi baru melalui perangkat lunak. Robot juga diklaim dapat belajar melalui simulasi virtual dan instruksi berbasis tujuan.
Kemampuan tersebut membuka peluang penggunaan Microduck sebagai perangkat eksperimen untuk robotika dan AI. Pengembang dapat menguji interaksi antara perangkat keras, model AI, sensor, dan sistem gerak dalam bentuk robot fisik.
Pendekatan open-source juga berpotensi membentuk komunitas pengembang. Semakin banyak orang yang membuat aplikasi atau eksperimen baru, semakin luas pula kemungkinan fungsi yang dapat ditawarkan perangkat tersebut.
Namun, kemampuan tersebut tetap bergantung pada perangkat keras dan ekosistem perangkat lunak yang tersedia. Klaim mengenai kemampuan belajar robot juga perlu dilihat berdasarkan implementasi dan demonstrasi produk secara nyata.
NPU 1 TOPS Menjadi Bagian dari Sistem AI
Pollen Robotics menyebut pemilihan chip Rockchip pada Microduck berkaitan dengan keberadaan NPU yang memiliki kemampuan hingga 1 TOPS. Neural Processing Unit atau NPU merupakan komponen yang dirancang untuk mempercepat tugas komputasi AI tertentu.
Kemampuan tersebut dapat membantu perangkat menjalankan pemrosesan AI secara lokal. Dalam robot berukuran kecil, efisiensi konsumsi daya menjadi pertimbangan penting karena perangkat harus menggerakkan motor sekaligus memproses data sensor.
Sebagai pembanding, Nvidia Jetson Orin Nano 2 yang disebut dalam materi memiliki kemampuan hingga 78 TOPS. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Microduck tidak mengejar kapasitas komputasi tertinggi.
Sebaliknya, desain Microduck tampaknya lebih menekankan keseimbangan antara ukuran perangkat, konsumsi daya, harga, kemampuan AI, dan fungsi robotika. Perbandingan TOPS saja juga tidak cukup untuk menentukan performa AI secara keseluruhan.
Arsitektur model, optimasi perangkat lunak, memori, bandwidth, serta jenis tugas yang dijalankan turut menentukan kinerja sebuah perangkat AI.
Kinerja Rockchip Ikut Menjadi Sorotan
Di balik penggunaan chip pada robot tersebut, Rockchip juga mencatat perkembangan positif dalam bisnis semikonduktor. Pada semester pertama 2026, pendapatan operasional perusahaan dilaporkan mencapai 2,88 miliar yuan atau sekitar US$428 juta.
Angka tersebut meningkat sekitar 40 persen secara tahunan. Laba bersih setelah mengecualikan sejumlah pos satu kali juga dilaporkan tumbuh lebih dari 60 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap komponen semikonduktor untuk berbagai perangkat pintar. Produk seperti robot, kamera, perangkat visi mesin, dan perangkat edge AI membutuhkan chip dengan kemampuan pemrosesan yang semakin baik.
Perkembangan ini juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan AI tidak hanya memberikan keuntungan kepada pembuat model generatif. Produsen prosesor, sensor, modul kamera, memori, serta komponen pendukung turut menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Persaingan Robot Personal Semakin Ramai
Microduck bukan satu-satunya produk yang mencoba membawa AI ke perangkat robot personal. Sejumlah perusahaan lain juga mulai memperkenalkan robot dengan pendekatan berbeda.
Baca Juga “Kembangkan usaha, Pemkot Surakarta dorong pelaku UMKM manfaatkan teknologi AI“