DANA Soroti Implementasi AI bagi Bisnis dan Talenta

DANA

DANA Dorong Implementasi AI Berbasis Dampak untuk Bisnis dan Talenta
DANA Indonesia mendorong perusahaan untuk mengukur keberhasilan penerapan kecerdasan buatan (AI) berdasarkan dampaknya terhadap bisnis. Penggunaan teknologi tidak cukup dinilai dari banyaknya eksperimen atau jumlah proses yang telah menggunakan AI.

Baca Juga “ASUS kembangkan Zenni Claw untuk jalankan layanan AI langsung dari komputer“

CEO dan Co-Founder DANA Indonesia Vince Iswara mengatakan nilai AI baru terlihat ketika teknologi tersebut mampu menyelesaikan masalah nyata. Penerapan AI juga perlu meningkatkan kualitas keputusan dan menghasilkan manfaat yang dapat diukur.

“Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur,” ujar Vince.

Menurut Vince, manusia tetap memegang peran penting dalam penerapan AI. Manusia bertanggung jawab menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, serta memastikan hasil akhir teknologi dapat dipertanggungjawabkan.

AI Mendukung Sebagian Besar Proses Pengembangan Kode
DANA menyebut sekitar 80-90 persen kode yang dibuat perusahaan saat ini telah mendapatkan dukungan AI. Meski demikian, engineer tetap menjalankan fungsi penting dalam seluruh proses pengembangan teknologi.

Peran engineer tidak sebatas memeriksa kualitas kode yang dihasilkan AI. Mereka tetap harus merumuskan persoalan, menentukan arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, dan mengambil keputusan terhadap hasil akhirnya.

Kondisi tersebut menunjukkan perubahan peran talenta teknologi. Ketika AI semakin mampu menghasilkan kode, kemampuan manusia untuk memahami kebutuhan bisnis dan menentukan solusi menjadi semakin penting.

Implementasi Agentic AI Tingkatkan Produktivitas
Vince mengatakan penerapan agentic AI pada sejumlah proses operasional DANA sepanjang 2025 menghasilkan sejumlah peningkatan yang terukur.

Implementasi tersebut disebut meningkatkan produktivitas hingga 57 persen. DANA juga mencatat kenaikan kepuasan pelanggan sebesar 13 persen dan percepatan penyelesaian layanan sebesar 10 persen.

Data tersebut menjadi contoh bahwa penerapan AI perlu dikaitkan dengan indikator kinerja yang jelas. Perusahaan dapat mengevaluasi teknologi berdasarkan perubahan produktivitas, kualitas layanan, pengalaman pelanggan, atau efisiensi proses.

DANA Terapkan Smart Friction untuk Mengelola Risiko
Selain mengejar produktivitas, DANA menempatkan tata kelola dan mitigasi risiko sebagai bagian dari penerapan AI.

Salah satu pendekatan yang digunakan ialah Smart Friction. Sistem tersebut menambahkan lapisan verifikasi secara terukur pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi.

DANA menyatakan pendekatan tersebut diterapkan melalui kolaborasi lintas sektor bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Menurut perusahaan, langkah tersebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas terindikasi perjudian online di platform hingga 80 persen sepanjang 2025.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk mempercepat proses. Sistem digital juga dapat diarahkan untuk meningkatkan pengendalian risiko ketika perusahaan menerapkan mekanisme pengawasan yang sesuai.

Eksperimen AI Perlu Diikuti Tata Kelola
Vince menilai perusahaan tetap perlu memberikan ruang bagi karyawan untuk menguji teknologi baru. Namun, eksperimen tersebut harus berjalan dengan tujuan dan batasan yang jelas.

Setiap penggunaan AI perlu memiliki sasaran, parameter keberhasilan, serta pihak yang bertanggung jawab terhadap hasilnya. Kerangka tersebut membantu perusahaan menghindari penggunaan AI hanya karena mengikuti tren.

Pendekatan berbasis tujuan juga memungkinkan perusahaan menentukan apakah sebuah implementasi benar-benar memberikan manfaat. Evaluasi dapat dilakukan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah teknologi diterapkan.

Kemampuan Engineer Bergeser ke Pemahaman Bisnis
CTO DANA Indonesia Norman Sasono mengatakan kemampuan coding tetap relevan bagi engineer. Namun, keunggulan kompetitif semakin bergeser menuju kemampuan yang lebih luas.

Engineer perlu memahami kebutuhan bisnis, memecahkan masalah, merancang arsitektur, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas dampak sistem yang mereka bangun.

“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong,” ujar Norman.

Menurutnya, kemudahan menghasilkan kode dengan bantuan AI justru meningkatkan kebutuhan terhadap kemampuan penalaran dan pengambilan keputusan. Engineer harus mampu memahami konteks dan mengantisipasi potensi masalah sebelum sistem digunakan.

Talenta Manusia Tetap Menjadi Penentu
Perkembangan AI mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi teknologi tersebut tidak menghilangkan kebutuhan terhadap kompetensi manusia. Justru, kemampuan menentukan tujuan, memahami konteks, dan mengelola risiko menjadi semakin penting.

Bagi bisnis, tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan tingkat adopsi AI. Perusahaan perlu memastikan teknologi tersebut menghasilkan dampak yang dapat diukur sekaligus menjaga keamanan dan akuntabilitas.

DANA melihat penerapan AI sebagai proses yang perlu menggabungkan eksperimen, pengukuran, tata kelola, dan pengembangan talenta. Dengan pendekatan tersebut, AI dapat ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan sekadar teknologi yang digunakan karena sedang populer.

Baca Juga “Generasi Muda Didorong Kuasai AI untuk Bersaing Global“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *