Guru Harus Adaptif Menghadapi AI, Peran Pendidik Tetap Tak Tergantikan di Era Digital
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara belajar, mengajar, dan mengelola pendidikan. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dibantu oleh sistem berbasis AI, mulai dari penyusunan materi ajar hingga analisis hasil belajar siswa. Meski demikian, kemajuan teknologi tersebut dinilai tidak akan menggantikan peran guru sebagai pendidik yang membangun karakter, menanamkan nilai moral, serta memberikan pendampingan emosional kepada peserta didik.
Baca Juga “Xpeng Pamer Teknologi AI di GIIAS 2026, Bawa Konsep GX hingga Robot Humanoid“
Pandangan tersebut mengemuka dalam program Jember Menyapa Pro 1 RRI Jember bertajuk “Transformasi Pendidikan di Era AI: Guru Adaptif, Pembelajaran Inovatif” yang disiarkan pada 28 Juli 2026. Dalam diskusi tersebut, para narasumber menegaskan bahwa teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti peran manusia di ruang kelas.
Guru Tetap Menjadi Pilar Utama dalam Proses Pendidikan
Ketua PGRI Kabupaten Bondowoso, Suhartono, menegaskan bahwa hubungan antara guru dan peserta didik memiliki dimensi yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan. Menurutnya, AI mampu mengolah data dan membantu pekerjaan administratif, tetapi tidak memiliki empati, keteladanan, maupun kemampuan membangun kedekatan emosional.
Ia menilai bahwa proses pendidikan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga membentuk karakter, sikap, dan nilai kehidupan yang diperoleh melalui interaksi langsung antara guru dan siswa.
Suhartono menyampaikan bahwa secanggih apa pun perkembangan teknologi, guru akan tetap memiliki posisi sentral dalam dunia pendidikan. Menurutnya, AI hanyalah alat yang membantu pekerjaan pendidik, sedangkan arah dan tujuan pembelajaran tetap ditentukan oleh manusia.
Ia juga menjelaskan bahwa transformasi digital telah mengubah peran guru dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran. Dalam model pembelajaran modern, guru berperan membimbing siswa agar mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
AI Membantu Tugas Administratif Guru
Pemanfaatan AI dinilai dapat meningkatkan efisiensi kerja guru dalam menjalankan berbagai tugas administrasi. Teknologi ini dapat membantu menyusun perangkat pembelajaran, membuat rancangan evaluasi, mengolah data hasil belajar, hingga menyusun laporan akademik dengan lebih cepat.
Dengan berkurangnya beban administrasi, guru memiliki lebih banyak waktu untuk merancang strategi pembelajaran yang kreatif dan memberikan pendampingan kepada peserta didik secara lebih intensif.
Menurut Suhartono, AI seharusnya dipandang sebagai mitra kerja yang mendukung produktivitas guru. Namun, keputusan pendidikan tetap harus berada di tangan pendidik karena setiap siswa memiliki karakter, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang berbeda.
Ia mengingatkan bahwa teknologi tidak memiliki kemampuan memahami kondisi psikologis maupun sosial peserta didik sebagaimana yang dilakukan oleh seorang guru.
Guru Perlu Adaptif terhadap Perkembangan Teknologi
Dalam kesempatan yang sama, Kepala SDN Gayam Kidul 2, Panji Amboro, menilai bahwa guru perlu terus meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Menurutnya, perubahan yang terjadi saat ini tidak dapat dihindari sehingga pendidik harus siap memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Ia mengingatkan agar guru tidak memandang AI sebagai ancaman. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dipahami agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Panji menegaskan bahwa penggunaan AI tetap memerlukan pengawasan dari guru maupun orang tua. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, Dinas Pendidikan, dan pemerintah menjadi faktor penting agar pemanfaatan teknologi berjalan sesuai tujuan pendidikan.
Dengan adanya pengawasan yang baik, AI dapat menjadi media pembelajaran yang efektif sekaligus meminimalkan risiko penyalahgunaan teknologi oleh peserta didik.
Keteladanan Guru Tidak Bisa Digantikan Mesin
Panji juga menyoroti bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik siswa, tetapi juga dari pembentukan karakter, etika, dan nilai kehidupan.
Menurutnya, AI mampu mempercepat berbagai pekerjaan teknis, tetapi tidak dapat menggantikan ketulusan, kesabaran, perhatian, serta keteladanan yang diberikan seorang guru kepada muridnya.
Interaksi langsung antara guru dan siswa memiliki peran penting dalam membangun rasa percaya diri, motivasi belajar, hingga kemampuan bersosialisasi. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari pendidikan yang tidak dapat dihasilkan oleh sistem berbasis kecerdasan buatan.
Karena itu, Panji menegaskan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai sahabat kerja guru, bukan sebagai pengganti profesi pendidik.
Literasi Digital Menjadi Kunci Pemanfaatan AI
Para narasumber sepakat bahwa peningkatan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak di era perkembangan AI. Guru dan siswa perlu memahami cara menggunakan teknologi secara aman, etis, dan bertanggung jawab agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
Literasi digital juga mencakup kemampuan memilah informasi, memverifikasi sumber, menjaga keamanan data pribadi, serta memahami batasan penggunaan AI dalam kegiatan belajar.
Dengan kemampuan tersebut, peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis terhadap informasi yang dihasilkan oleh sistem kecerdasan buatan.
Pendekatan ini dinilai penting karena AI tetap memiliki keterbatasan, termasuk kemungkinan menghasilkan informasi yang kurang akurat apabila digunakan tanpa proses verifikasi.
Kolaborasi Menentukan Masa Depan Pendidikan
Transformasi pendidikan di era AI membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Guru, orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam memastikan teknologi digunakan untuk mendukung proses belajar yang berkualitas.
Pemanfaatan AI yang tepat dapat membantu menciptakan pembelajaran yang lebih personal, efisien, dan inovatif. Namun, keberhasilan pendidikan tetap bergantung pada kualitas interaksi manusia yang membangun karakter, kreativitas, serta kepedulian sosial peserta didik.
Ke depan, tantangan dunia pendidikan bukan lagi memilih antara guru atau teknologi, melainkan bagaimana mengintegrasikan keduanya secara seimbang. Dengan guru yang adaptif, inovatif, dan memiliki literasi digital yang baik, AI dapat menjadi alat pendukung yang memperkuat proses pembelajaran tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti pendidikan.
Baca Juga “Zuckerberg Bela Model AI China, Apa Alasannya?“