Hacker Rusia Gunakan AI Claude untuk Serang Ukraina

Hacker Rusia

Hacker Rusia Manfaatkan AI Claude dalam Operasi Spionase Siber
Kelompok peretas Rusia Midnight Blizzard dilaporkan memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) Claude untuk mengotomatisasi operasi spionase siber yang menyasar Ukraina dan sejumlah negara Eropa.

Anthropic mengungkap temuan tersebut dalam laporan bertajuk Detecting and Countering AI Abuse: September 2026. Menurut laporan itu, operasi berlangsung sejak Desember 2025 hingga Agustus 2026 dan menyasar lebih dari 20 organisasi.

Targetnya mencakup lembaga pemerintah, militer, badan intelijen, misi diplomatik, lembaga think tank, perusahaan pertahanan, hingga produsen drone.

Claude Digunakan dalam Berbagai Tahap Serangan Siber
Para peneliti Anthropic menemukan bahwa kelompok tersebut menggunakan Claude dalam hampir seluruh rangkaian operasinya. AI membantu mereka melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan lebih banyak intervensi manual dari operator manusia.

Baca Juga “MIND ID Gunakan AI untuk Deteksi Kelelahan dan Microsleep Operator Tambang“

Claude digunakan untuk membantu mengidentifikasi calon target dan mengumpulkan informasi mengenai sasaran. Para peretas juga memanfaatkannya untuk mendaftarkan domain serta menyiapkan infrastruktur yang mendukung serangan phishing.

Setelah memperoleh akses, AI membantu aktivitas lanjutan di jaringan korban. Penggunaan tersebut mencakup pencurian kredensial, pergerakan di dalam jaringan yang telah disusupi, serta ekstraksi data dalam jumlah besar.

Menurut laporan Anthropic, kelompok tersebut bahkan menggunakan Claude untuk memantau kemampuan sistem keamanan dalam mendeteksi perangkat lunak berbahaya mereka.

Ketika sistem antivirus mendeteksi program tertentu, AI membantu menganalisis penyebab deteksi. Para penyerang kemudian mengubah kode dan melakukan kompilasi ulang hingga program tersebut tidak lagi terdeteksi.

Pola ini menunjukkan bagaimana AI dapat mempercepat pekerjaan teknis dalam operasi siber. Namun, kemampuan tersebut tetap bergantung pada infrastruktur, akses, dan keputusan yang dibuat oleh operator serangan.

Industri Drone Menjadi Salah Satu Sasaran Utama
Teknologi drone dan rantai pasoknya menjadi salah satu fokus penting dalam operasi tersebut. Para peretas dilaporkan berhasil memperoleh isi kotak masuk email milik sedikitnya dua produsen komponen drone.

Mereka juga menyasar produsen kendaraan udara tak berawak (UAV) militer. Dalam salah satu operasi, kelompok tersebut mencuri perangkat pengembangan perangkat lunak yang digunakan untuk sistem penglihatan mesin pada drone.

Setelah memperoleh perangkat lunak itu, penyerang melakukan rekayasa balik selama beberapa hari. Mereka berusaha memahami arsitektur sistem, komponen perangkat keras, pemasok, serta produk yang belum diluncurkan.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa tujuan operasi tidak hanya mencuri informasi umum. Penyerang juga berupaya mendapatkan pengetahuan teknis yang dapat membantu memahami teknologi dan rantai pasok industri pertahanan.

Hacker Mencari Jalur Tidak Langsung Menuju Target
Operasi Midnight Blizzard tidak hanya mengandalkan serangan langsung terhadap organisasi prioritas. Anthropic juga menemukan upaya untuk memanfaatkan pihak ketiga sebagai jalur menuju target yang lebih bernilai.

Setidaknya tiga penyedia jaringan Wi-Fi hotel dilaporkan berhasil ditembus. Penyerang kemudian memodifikasi catatan DNS untuk mengarahkan perangkat tamu menuju server yang berada dalam kendali mereka.

Dari server tersebut, malware untuk perangkat Windows, Android, dan iOS dapat didistribusikan kepada perangkat yang tersambung ke jaringan yang telah dikompromikan.

Strategi semacam ini memperlihatkan pentingnya keamanan rantai pasok digital. Sistem milik organisasi yang menjadi target bukan satu-satunya titik yang perlu diamankan karena infrastruktur pihak ketiga juga dapat menjadi pintu masuk.

Akun WhatsApp Turut Menjadi Sasaran
Para penyerang juga dilaporkan berhasil memperoleh akses ke sejumlah akun WhatsApp. Mereka menggunakan platform berbasis browser yang dapat berjalan tanpa antarmuka grafis untuk menghubungkan perangkat yang dikendalikan penyerang dengan akun korban sebagai perangkat tertaut.

Metode tersebut memperlihatkan bahwa operasi spionase dapat memanfaatkan layanan komunikasi yang digunakan sehari-hari. Keamanan akun karena itu tidak hanya bergantung pada kata sandi, tetapi juga pada pengelolaan perangkat tertaut dan mekanisme autentikasi.

Penggunaan AI Mengubah Skala Operasi Siber
Temuan Anthropic memperlihatkan perubahan penting dalam penggunaan AI untuk operasi siber. Teknologi tersebut dapat membantu pelaku mengotomatisasi pekerjaan berulang dan mempercepat sejumlah proses yang sebelumnya membutuhkan keahlian teknis serta waktu lebih besar.

Namun, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa AI tidak secara otomatis membuat serangan berhasil. Operator tetap membutuhkan akses awal, infrastruktur pendukung, pengetahuan mengenai target, dan kemampuan mengarahkan sistem AI untuk mencapai tujuan tertentu.

Perkembangan ini membuat pertahanan siber perlu beradaptasi. Organisasi perlu memperkuat pemantauan jaringan, keamanan identitas, perlindungan perangkat, serta pengawasan terhadap pihak ketiga yang memiliki akses ke lingkungan mereka.

Anthropic menyatakan temuan tersebut sebagai bagian dari upaya mendeteksi dan menangkal penyalahgunaan AI. Kasus Midnight Blizzard menjadi contoh bahwa perkembangan kemampuan AI membawa manfaat produktivitas sekaligus meningkatkan tantangan keamanan.

Ke depan, persaingan antara kemampuan AI untuk menyerang dan mekanisme AI untuk mendeteksi ancaman kemungkinan semakin intensif. Penguatan pertahanan berlapis dan pengawasan terhadap penggunaan AI akan menjadi semakin penting ketika teknologi tersebut masuk lebih jauh ke dalam operasi siber.

Baca Juga “Guru Besar UMS soroti etika penggunaan AI dalam penalaran hukum“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *