Pakar Nilai AI Bisa Perluas Akses Teknologi Roket dan Antariksa
Integrasi AI Dinilai Membuka Peluang Negara Berkembang Masuk Industri Dirgantara
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai berpotensi mengubah peta industri antariksa global. Teknologi tersebut disebut mampu membuka akses lebih luas bagi negara berkembang untuk terlibat dalam pengembangan roket dan sistem dirgantara modern.
Pandangan itu disampaikan pemerhati penerbangan Stan Rudenko dalam ajang Make It In The Emirates 2026 yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Sabtu (9/5/2026).
Menurut Stan, penerapan AI dalam proses rekayasa teknologi dapat mempercepat pengembangan sistem antariksa yang sebelumnya membutuhkan biaya besar dan sumber daya tinggi. Dengan dukungan otomatisasi dan computational engineering, proses desain kini dapat dilakukan lebih efisien dibanding metode konvensional.
Baca Juga “China Ikut Indonesia, Ramai-Ramai Tolak Digantikan Total“
Ia menilai kondisi tersebut akan membantu negara-negara yang masih membangun industri dirgantara nasional, termasuk Indonesia, untuk mengejar ketertinggalan teknologi dari negara maju.
“Saya percaya AI akan sangat mendemokratisasi pembangunan teknologi baru,” ujar Stan dalam keterangan tertulisnya.
AI Dinilai Percepat Inovasi Industri Antariksa
Stan menjelaskan bahwa AI mampu mengubah pendekatan pengembangan teknologi roket dan wahana antariksa. Jika sebelumnya proses rekayasa membutuhkan waktu panjang dan pengujian berulang, kini sebagian simulasi dapat dilakukan secara digital dengan bantuan kecerdasan buatan.
Teknologi tersebut memungkinkan pengembang melakukan analisis desain lebih cepat dan lebih akurat. AI juga dinilai mampu membantu optimalisasi struktur roket, efisiensi bahan bakar, hingga simulasi kondisi penerbangan sebelum proses produksi dilakukan.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri antariksa global memang mulai memanfaatkan AI untuk mendukung pengembangan teknologi penerbangan dan eksplorasi luar angkasa. Sejumlah perusahaan swasta bahkan telah mengintegrasikan AI dalam sistem navigasi dan pengendalian kendaraan antariksa.
Stan menilai perkembangan ini menciptakan peluang baru bagi negara berkembang untuk masuk ke industri yang selama ini identik dengan investasi mahal dan dominasi negara maju.
Pengalaman Praktis Tetap Dibutuhkan
Meski AI dianggap mampu mempercepat inovasi, Stan mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan pengalaman praktis manusia. Menurutnya, pengembangan sistem secanggih roket tetap membutuhkan tenaga ahli yang memiliki pengalaman operasional nyata.
Ia menilai negara berkembang tidak cukup hanya mengandalkan software dan otomatisasi. Penguatan sumber daya manusia tetap menjadi faktor utama agar teknologi dapat dikembangkan secara mandiri dan berkelanjutan.
“Pasar berkembang tetap membutuhkan orang-orang yang memiliki pengalaman nyata dalam membangun dan mengoperasikan sistem secanggih roket dan wahana antariksa,” katanya.
Stan juga mengingatkan bahwa ketergantungan penuh pada teknologi asing dapat menjadi tantangan baru jika negara berkembang tidak membangun kapasitas SDM sendiri.
Industri Roket Mulai Gabungkan AI dan Teknologi Reusable
Dalam pemaparannya, Stan turut menyoroti tren baru di industri antariksa yang mulai menggabungkan konsep full reusability dengan rekayasa berbasis AI. Pendekatan tersebut memungkinkan roket digunakan kembali untuk menekan biaya peluncuran dan meningkatkan efisiensi operasional.
Menurut dia, kombinasi teknologi reusable dan AI memang memiliki tingkat risiko tinggi. Namun, pendekatan itu berpotensi menghasilkan lompatan besar dalam pengembangan sistem antariksa modern.
Stan menyebut timnya saat ini sedang mengembangkan arsitektur roket reusable dengan keterlibatan computational engineering secara signifikan. Teknologi tersebut dirancang untuk menciptakan sistem penerbangan antariksa yang lebih efisien dan adaptif.
“Kami sedang membangun arsitektur kapal roket yang benar-benar baru serta wahana antariksa dengan keterlibatan sangat signifikan dari computational engineering,” ujarnya.
Konsep reusable sendiri semakin populer setelah sejumlah perusahaan antariksa global berhasil menekan biaya peluncuran melalui penggunaan ulang roket. Model tersebut kini menjadi salah satu fokus utama industri antariksa modern.
AI Diprediksi Ubah Masa Depan Industri Dirgantara
Stan menilai inovasi besar di sektor antariksa tidak dapat dicapai menggunakan pendekatan lama. Menurutnya, teknologi baru membutuhkan metode pengembangan yang lebih adaptif dan berbasis digital.
Ia menegaskan bahwa AI akan menjadi bagian penting dalam masa depan industri dirgantara, baik untuk desain, simulasi, maupun pengoperasian sistem penerbangan antariksa.
“Ketika Anda membangun teknologi yang benar-benar baru, Anda harus membangunnya dengan metode baru juga,” kata Stan.
Perkembangan AI di sektor dirgantara diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Banyak negara mulai melihat kecerdasan buatan sebagai alat strategis untuk mempercepat riset, mengurangi biaya pengembangan, dan memperluas akses teknologi antariksa.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, momentum tersebut dinilai dapat menjadi peluang untuk memperkuat industri dirgantara nasional. Namun, para ahli mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus dibarengi investasi pada pendidikan, riset, dan pengembangan SDM agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi global.
Baca Juga “Investor Legendaris Michael Burry Sebut Pasar AI Terlalu Panas, Mirip Dot-com Bubble“