Penguasaan AI Dinilai Penting untuk Dorong UMKM dan Disabilitas Naik Kelas
Pelatihan AI di Kudus Fokus pada Inklusi Digital dan Kemandirian Ekonomi
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya penguasaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mempercepat pengembangan UMKM lokal dan memperluas pemberdayaan penyandang disabilitas di era digital.
Pernyataan tersebut disampaikan Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, saat memberikan sambutan secara daring dalam pelatihan AI yang digelar Alunjiva bersama Microsoft di Auditorium Universitas Muria Kudus, Minggu, 10 Mei 2026.
Menurut Rerie, perkembangan AI membuka peluang besar bagi pelaku usaha kecil dan kelompok rentan untuk memperluas akses ekonomi digital. Teknologi tersebut dinilai mampu membantu promosi produk lokal, mempercepat pemasaran, hingga meningkatkan daya saing usaha di platform digital.
Baca Juga “Apresiasi bagi Para Guru yang Berinovasi dengan Pemanfaatan AI“
“Kita meyakini bahwa penguasaan AI akan memberikan akselerasi luar biasa bagi pengembangan UMKM lokal dan berbagai kegiatan inklusif,” ujar Rerie dalam sambutannya.
Pelatihan tersebut diikuti komunitas pemuda dan penyandang disabilitas dari Kudus dan sejumlah daerah sekitar. Kegiatan itu difokuskan pada pemanfaatan AI untuk kebutuhan praktis, mulai dari pembuatan konten digital, pemasaran online, hingga pengembangan usaha berbasis teknologi.
Indonesia Masuk Negara dengan Pengguna AI Terbesar
Dalam pemaparannya, Rerie menjelaskan penggunaan AI di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Teknologi tersebut kini tidak hanya digunakan untuk mencari informasi, tetapi juga mendukung aktivitas belanja digital, produktivitas kerja, hingga pengembangan bisnis.
Ia menyebut Indonesia termasuk dalam delapan negara dengan tingkat penggunaan AI yang cukup tinggi di dunia. Berdasarkan hasil survei 2025–2026, sekitar 64,7 persen responden di Indonesia mengaku pernah menggunakan teknologi berbasis AI.
Meski demikian, Rerie mengingatkan bahwa penguasaan teknologi tidak cukup hanya pada aspek teknis. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi faktor utama agar masyarakat mampu memanfaatkan AI secara tepat dan bertanggung jawab.
“Kemampuan berpikir kritis adalah kunci utama agar manusia tetap menjadi pengendali teknologi,” tegasnya.
Ia juga menilai perkembangan AI harus diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi dan memahami risiko penyalahgunaan teknologi digital, termasuk penyebaran hoaks dan manipulasi data.
Akses Teknologi untuk Disabilitas Masih Terbatas
Selain membahas perkembangan AI, Rerie turut menyoroti masih terbatasnya akses pelatihan teknologi bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Menurutnya, kesenjangan akses digital masih menjadi tantangan besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, lebih dari 75 persen penyandang disabilitas masih bekerja di sektor informal. Sementara itu, hanya sekitar 25 persen yang berhasil masuk ke sektor formal.
Rerie menilai kondisi tersebut tidak lepas dari minimnya akses pendidikan teknologi dan pelatihan keterampilan digital yang ramah disabilitas. Selain faktor fasilitas, stigma sosial juga dinilai menjadi hambatan utama.
“Stigma sosial sering kali menjadi penghalang yang lebih besar daripada keterbatasan fisik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa transformasi digital seharusnya dapat membuka peluang kerja yang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Dengan dukungan pelatihan yang tepat, kelompok tersebut dinilai mampu bersaing dalam ekonomi digital modern.
Pelatihan AI Dianggap Jadi Langkah Nyata Inklusi Digital
Rerie menilai pelatihan AI yang digelar di Kudus menjadi contoh nyata pentingnya menciptakan akses teknologi yang setara. Menurutnya, kesetaraan digital bukan lagi sekadar program tambahan, melainkan kebutuhan utama di tengah perkembangan teknologi global.
Pelatihan tersebut diharapkan mampu membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat digunakan untuk membangun kemandirian ekonomi. Beberapa materi pelatihan mencakup pemanfaatan AI untuk menjadi afiliator digital, kreator konten, hingga pengusaha berbasis internet.
Dalam beberapa tahun terakhir, profesi digital memang semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan platform e-commerce. Kondisi tersebut membuka peluang baru bagi generasi muda dan penyandang disabilitas untuk memperoleh penghasilan tanpa terbatas lokasi fisik.
Rerie mengajak peserta memanfaatkan momentum pelatihan sebagai langkah awal meningkatkan kemampuan berpikir dan keterampilan digital. Ia berharap penguasaan AI dapat membantu masyarakat lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja di masa depan.
AI Dinilai Akan Jadi Faktor Penting Ekonomi Digital Indonesia
Perkembangan AI diperkirakan akan terus memengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan, industri kreatif, layanan publik, hingga UMKM. Pemerintah dan berbagai lembaga kini mulai mendorong peningkatan literasi digital agar masyarakat tidak tertinggal dalam transformasi teknologi.
Di sisi lain, isu inklusivitas juga semakin menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi digital. Banyak pihak mendorong agar inovasi AI tidak hanya dinikmati kelompok tertentu, tetapi juga dapat diakses penyandang disabilitas dan masyarakat di daerah.
Pelatihan seperti yang digelar di Kudus dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk memperluas akses teknologi secara merata. Dengan dukungan pelatihan berkelanjutan, AI diharapkan tidak hanya menjadi alat modernisasi, tetapi juga sarana menciptakan peluang ekonomi yang lebih inklusif di Indonesia.
Baca Juga “China akan dorong pemberdayaan timbal balik antara AI dan energi“