Perusahaan IT Perkuat Adaptasi AI di Tengah Perubahan Teknologi
Perubahan teknologi yang semakin cepat mendorong perusahaan teknologi informasi (IT) memperkuat kemampuan adaptasi. Perkembangan artificial intelligence (AI), cloud, data, dan teknologi quantum membuat perusahaan perlu memperbarui strategi sekaligus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia.
Baca Juga “Semakin Canggih, Malaysia Hadirkan Teknologi Bedah Ortopedi Berbasis AI“
Presiden Komisaris Metrocom Indra Pattiasina mengatakan siklus perubahan teknologi kini jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Teknologi yang dahulu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang kini dapat mengalami perubahan signifikan dalam hitungan bulan.
Kondisi tersebut membuat perusahaan IT tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi. Perusahaan juga perlu memastikan karyawan memiliki kemampuan untuk mempelajari dan menerapkan teknologi baru sesuai kebutuhan bisnis.
Perubahan Teknologi Kini Berlangsung dalam Hitungan Bulan
Indra mengatakan perkembangan teknologi saat ini berlangsung lebih cepat dibandingkan masa lalu. Jika sebelumnya perubahan besar dapat terjadi dalam lima atau sepuluh tahun, kini inovasi baru dapat muncul setiap tahun, enam bulan, bahkan setiap bulan.
Perubahan tersebut membuat kemampuan belajar menjadi salah satu faktor penting bagi tenaga kerja di industri IT. Karyawan perlu memperbarui pengetahuan agar dapat memahami teknologi yang terus berkembang.
” Tidak ada kata-kata bahwa kita berhenti belajar. Tidak. Kita harus selalu belajar,” kata Indra dalam siaran pers, Senin (10/8/2026).
Menurut Indra, kemampuan beradaptasi juga menentukan kemampuan perusahaan menghadapi perubahan industri. Ia mendorong karyawan untuk berpartisipasi dalam proses transformasi dan berkembang bersama MGS Group.
AI Jadi Fokus Baru Perusahaan Teknologi
Artificial intelligence menjadi salah satu teknologi yang kini mendapat perhatian besar dari Metrocom. Presiden Direktur Metrocom Bobby Sangka mengatakan perusahaan telah membentuk divisi khusus AI.
Metrocom juga sedang mengembangkan sejumlah produk berbasis AI yang nantinya dapat dipasarkan kepada pelanggan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menggunakan AI untuk kebutuhan internal.
Pemanfaatan AI juga mulai diterapkan dalam sejumlah aktivitas internal. Bidang yang telah menggunakan teknologi tersebut antara lain sumber daya manusia, keuangan, dan project management.
Bobby menilai penggunaan AI akan semakin luas di lingkungan perusahaan. Teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus mendukung kinerja dalam berbagai proses bisnis.
Metrocom Siapkan SDM Menghadapi Perkembangan AI
Perubahan teknologi tidak hanya membutuhkan investasi pada perangkat dan solusi digital. Perusahaan juga perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan dan mengembangkan teknologi tersebut.
Direktur Solution Delivery Metrocom Refendi Panggabean mengatakan perusahaan melakukan persiapan menghadapi perkembangan AI melalui pengembangan solusi dan penguatan SDM.
Metrocom merekrut tenaga kerja generasi muda, termasuk Gen Z. Kelompok tersebut dinilai lebih dekat dengan perkembangan teknologi terbaru dan dapat membantu perusahaan beradaptasi dengan perubahan industri.
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Metrocom mempertahankan kualitas layanan kepada pelanggan. Perusahaan menilai kemampuan memahami teknologi baru akan semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan digitalisasi.
Metrocom Pernah Beradaptasi saat Pandemi
Perjalanan Metrocom menunjukkan bahwa perusahaan telah beberapa kali menghadapi perubahan besar dalam industri teknologi. Salah satu contohnya terjadi ketika pandemi COVID-19 mengubah kebutuhan pasar.
Saat pandemi berlangsung, Metrocom mengalihkan fokus bisnis dari infrastruktur menuju keamanan atau security. Perubahan strategi tersebut menjadi salah satu pengalaman perusahaan dalam merespons kondisi industri.
Kini, perkembangan AI kembali mendorong perusahaan melakukan penyesuaian. Refendi mengatakan Metrocom perlu mempersiapkan diri agar dapat menghadapi perubahan teknologi sekaligus mempertahankan relevansi di pasar.
Perusahaan yang berdiri pada 1998 tersebut telah melewati sejumlah fase perubahan. Pengalaman menghadapi krisis ekonomi, perkembangan teknologi informasi, pandemi, hingga era AI menjadi bagian dari perjalanan bisnis Metrocom.
Metrocom Berdiri di Tengah Krisis Moneter 1998
Presiden Direktur Metrocom Bobby Sangka mengatakan perusahaan didirikannya bersama Indra Pattiasina pada 1998. Keduanya sebelumnya bekerja di perusahaan asing sebelum memutuskan membangun usaha sendiri.
Bobby saat itu bekerja di Nova Sprint Consulting, perusahaan asal Singapura. Sementara itu, Indra bekerja di IBM.
Krisis moneter yang terjadi pada 1998 membuat keduanya mempertimbangkan keberlanjutan perusahaan tempat mereka bekerja. Kekhawatiran terhadap operasional perusahaan asing di Indonesia kemudian mendorong mereka mendirikan usaha sendiri.
“Pada saat krisis moneter itu, kita khawatir bahwa tempat kita bekerja itu akan tutup operasional di Indonesia, sehingga kita buat usaha,” ujar Bobby.
Metrocom kemudian mendapatkan proyek pertamanya dari Kejaksaan Agung. Proyek tersebut berlangsung sekitar 1998 hingga 2000 dan menjadi salah satu titik awal perkembangan perusahaan.
Bisnis Metrocom Berkembang dengan Spesialisasi Teknologi
Seiring perkembangan bisnis, Metrocom membangun sejumlah entitas dengan fokus teknologi yang berbeda. Anak perusahaan tersebut menangani berbagai bidang sesuai kebutuhan industri digital.
Bobby menjelaskan terdapat entitas yang berfokus pada IT security dan Google Cloud Platform. Sementara itu, Metrocom menjalankan peran sebagai system integrator dengan menawarkan berbagai solusi teknologi.
Struktur bisnis tersebut memungkinkan perusahaan menyediakan layanan dengan spesialisasi yang lebih beragam. Strategi tersebut juga membantu Metrocom menyesuaikan layanan dengan perubahan kebutuhan pelanggan.
Perkembangan AI kemudian menjadi fase baru yang perlu diantisipasi perusahaan. Pengembangan produk, penerapan AI secara internal, dan perekrutan tenaga kerja dengan kemampuan digital menjadi bagian dari strategi tersebut.
Perusahaan Dorong Budaya Belajar dan Kolaborasi
Indra menilai keberhasilan perusahaan tidak dapat dibangun oleh satu atau beberapa individu. Pertumbuhan bisnis membutuhkan kontribusi seluruh karyawan dan kolaborasi lintas tim.
“Tidak ada satu pun perusahaan yang sukses karena individual, atau dua orang, atau tiga orang. Semuanya karena kita semua,” kata Indra.
Pernyataan tersebut menempatkan sumber daya manusia sebagai bagian penting dalam menghadapi perubahan teknologi. Kompetensi individu perlu berjalan bersama budaya kolaborasi agar perusahaan dapat merespons perubahan secara lebih cepat.
Budaya belajar juga menjadi penting karena teknologi AI terus berkembang. Perusahaan perlu memastikan peningkatan kompetensi berlangsung secara berkelanjutan, bukan hanya ketika muncul teknologi baru.
RUNNECTED28 Jadi Momentum Memperkuat Kebersamaan Karyawan
Metrocom menandai perjalanan perusahaan melalui kegiatan RUNNECTED28, Connected Miles – Shared Success di Sarinah, Jakarta, pada Minggu (9/8/2026).
Sekitar 350 karyawan mengikuti kegiatan lari sejauh 2,8 kilometer. Rute dimulai dari Sarinah menuju Bundaran HI dan kemudian kembali ke Sarinah.
Ketua Panitia RUNNECTED28 Triska Sangka mengatakan kegiatan tersebut merupakan acara lari pertama yang diselenggarakan Metrocom.
“Kenapa dipilih running? Karena Metrocom belum pernah membuat acara running sebelumnya. Ini merupakan acara running pertama dan kali ini kami membuatnya dalam konsep outdoor,” ujar Triska.
Selain lari bersama, kegiatan tersebut diisi dengan pemotongan tumpeng, pembagian doorprize, serta penghargaan bagi karyawan berprestasi.
Menurut Triska, rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun. Acara juga dirancang untuk memperkuat hubungan dan kebersamaan antarpegawai.
Adaptasi Teknologi Menjadi Strategi Jangka Panjang
Perubahan teknologi yang semakin cepat membuat perusahaan IT perlu memandang adaptasi sebagai proses berkelanjutan. AI, cloud, data, dan teknologi quantum akan terus berkembang sehingga kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil juga meningkat.
Baca Juga “Pentingnya Etika dan Literasi Digital Konsumen dalam Teknologi AI“