Perusahaan Kembali Rekrut Pegawai Setelah PHK demi AI Dinilai Kurang Efektif
Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) yang sempat mendorong perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai memasuki fase evaluasi. Sejumlah perusahaan kini kembali merekrut pegawai setelah menyadari bahwa AI belum mampu menggantikan seluruh fungsi yang membutuhkan pengalaman, penilaian, dan pengambilan keputusan manusia.
Perubahan strategi ini terjadi di berbagai industri, mulai dari otomotif, perbankan, hingga teknologi. Alih-alih menggantikan pekerja sepenuhnya, banyak perusahaan kini memosisikan AI sebagai alat pendukung untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Pergeseran tersebut juga muncul ketika investor mulai mempertanyakan efektivitas investasi AI yang nilainya terus meningkat.
Baca Juga “Giotto.ai luncurkan akses cloud gratis untuk sistem AI di Eropa“
Ford, Commonwealth Bank, dan IBM Ubah Strategi, Kolaborasi Manusia-AI Dinilai Lebih Efektif
Salah satu perusahaan yang mengubah pendekatan adalah Ford. Dikutip dari CNBC, produsen otomotif asal Amerika Serikat itu kembali merekrut ratusan insinyur berpengalaman untuk menangani persoalan kualitas kendaraan yang tidak dapat diselesaikan sistem otomatis.
Wakil Presiden Vehicle Hardware Engineering Ford, Charles Poon, mengatakan AI merupakan teknologi yang sangat bermanfaat. Namun, hasil yang diberikan tetap bergantung pada kualitas data yang digunakan selama proses pelatihan.
Menurut Poon, AI belum mampu bekerja secara mandiri dalam pekerjaan yang membutuhkan analisis teknis mendalam, pengalaman lapangan, serta pertimbangan yang kompleks. Karena itu, kehadiran tenaga ahli tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas produk.
Perubahan serupa dilakukan Commonwealth Bank of Australia (CBA). Pada tahun lalu, bank tersebut mengurangi lebih dari 40 pegawai layanan pelanggan dan menggantinya dengan sistem AI berbasis voice bot sebagai bagian dari upaya efisiensi.
Implementasi tersebut ternyata tidak berjalan sesuai harapan. AI dinilai belum mampu menangani seluruh kebutuhan nasabah sehingga volume panggilan ke pusat layanan justru meningkat. Kondisi itu membuat CBA membatalkan kebijakan pengurangan tenaga kerja.
Serikat pekerja sektor keuangan Australia menyebut keputusan tersebut sebagai kemenangan bagi para pekerja. Sementara itu, laporan ABC Australia mengungkapkan bahwa manajemen CBA mengakui belum mempertimbangkan seluruh aspek bisnis secara menyeluruh ketika memutuskan mengganti sebagian pekerjaan dengan AI.
Perusahaan teknologi IBM juga menghadapi tantangan yang hampir serupa. IBM berhasil mengotomatisasi sekitar 94 persen permintaan rutin di divisi sumber daya manusia menggunakan AI. Namun, sekitar enam persen pekerjaan lainnya tetap membutuhkan campur tangan manusia karena melibatkan pertimbangan etika dan pengambilan keputusan yang lebih kompleks.
Melihat kondisi tersebut, IBM berencana meningkatkan perekrutan karyawan level pemula di Amerika Serikat hingga tiga kali lipat mulai 2026. Chief Human Resources Officer IBM, Nickle LaMoreaux, menilai regenerasi talenta harus tetap berjalan agar perusahaan memiliki sumber daya manusia berkualitas pada masa mendatang.
Menurut LaMoreaux, penghentian perekrutan karyawan baru berpotensi menghilangkan jalur pengembangan talenta. Dampaknya, perusahaan dapat mengalami kekurangan tenaga kerja yang siap mengisi posisi strategis dalam beberapa tahun ke depan.
Sejumlah laporan riset juga menunjukkan bahwa strategi menggantikan pekerja dengan AI tidak selalu menghasilkan efisiensi seperti yang diharapkan. Intuition Labs menyebut perusahaan yang hanya berinvestasi pada otomatisasi tanpa meningkatkan keterampilan karyawan justru menghadapi tantangan baru.
Dalam laporannya, Intuition Labs menjelaskan bahwa banyak organisasi akhirnya menyesali keputusan melakukan PHK. Perusahaan kehilangan tenaga kerja yang sebenarnya dibutuhkan untuk mengawasi sistem AI, memverifikasi hasil kerja, dan memastikan teknologi tersebut berjalan sesuai tujuan bisnis.
Temuan serupa disampaikan Orgvue. Laporan tersebut menunjukkan 39 persen pemimpin perusahaan mengurangi jumlah pekerja karena penerapan AI. Namun, sebanyak 55 persen dari kelompok tersebut mengakui keputusan itu merupakan langkah yang keliru setelah implementasi berjalan.
Hasil riset tersebut menunjukkan banyak perusahaan belum sepenuhnya memahami dampak jangka panjang AI terhadap kebutuhan tenaga kerja. Penggunaan AI memang dapat meningkatkan efisiensi pada pekerjaan yang bersifat rutin, tetapi tidak selalu mampu menggantikan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, empati, komunikasi, serta penilaian profesional.
Senior Vice President Asia Pasifik di ADP, Jessica Zhang, mengatakan hasil AI yang tidak konsisten sering membuat perusahaan kembali membutuhkan pengawasan manusia. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memunculkan pekerjaan ganda karena hasil AI masih harus diperiksa dan dikoreksi sebelum digunakan.
Akibatnya, proses kerja justru menjadi lebih lambat dan peningkatan produktivitas tidak tercapai secara optimal. Hal ini memperlihatkan bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia yang mengelolanya.
Data yang disampaikan Robert Half kepada CNBC memperlihatkan tren yang sama di pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Sebanyak 32 persen manajer perekrutan mengaku pernah menghapus suatu posisi karena AI, tetapi kemudian kembali membuka lowongan untuk pekerjaan yang sama atau serupa.
Perkembangan tersebut memperkuat pandangan bahwa AI belum menggantikan kebutuhan terhadap tenaga kerja manusia secara permanen. Sebaliknya, teknologi ini lebih efektif digunakan sebagai alat pendukung yang membantu pekerja menyelesaikan tugas secara lebih cepat dan efisien.
Capitol Technology University juga menilai arah perkembangan AI saat ini mengarah pada kolaborasi antara manusia dan teknologi. Pendekatan tersebut dinilai mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan menggantikan tenaga kerja sepenuhnya.
Ke depan, perusahaan diperkirakan akan lebih fokus membangun model kerja yang menggabungkan kemampuan AI dengan keahlian manusia. Strategi tersebut dinilai lebih berkelanjutan karena memanfaatkan keunggulan teknologi tanpa mengabaikan peran penting manusia dalam pengambilan keputusan, inovasi, serta penyelesaian persoalan yang kompleks.
Baca Juga “Bill Gates Menilai Sedikitnya Empat Bidang Pekerjaan Diperkirakan Paling Sulit Tergantikan AI“