Sundar Pichai Sebut Agentic AI Akan Jadi Masa Depan Utama Produk Google
Google Kembangkan AI Otonom yang Mampu Jalankan Tugas Kompleks Secara Mandiri
Chief Executive Officer Google, Sundar Pichai, memaparkan arah baru pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang disebut sebagai “agentic AI”. Teknologi tersebut digambarkan sebagai sistem AI otonom yang mampu menjalankan tugas kompleks secara mandiri atas nama pengguna.
Visi tersebut disampaikan Pichai dalam konferensi tahunan Google I/O yang berlangsung di California pada Selasa dan Rabu waktu setempat. Dalam acara itu, Google memperlihatkan berbagai inovasi AI terbaru yang diproyeksikan menjadi fondasi transformasi teknologi perusahaan pada masa mendatang.
Baca Juga “Begini Cara Menghindari Plagiarisme di Era AI“
Menurut Pichai, perkembangan AI saat ini tidak lagi terbatas pada kemampuan menjawab pertanyaan atau menghasilkan teks. Google ingin membangun sistem AI yang mampu memahami konteks, merencanakan tindakan, dan mengeksekusi tugas secara otomatis dengan campur tangan manusia yang minim.
“Saya pikir Google I/O tahun ini meletakkan fondasi bagi transformasi agentic di seluruh produk kami,” ujar Pichai dalam sesi diskusi bersama Wakil Presiden Google Liz Reid dan Chief Technology Officer Google DeepMind Koray Kavukcuoglu.
Konsep agentic AI merujuk pada sistem kecerdasan buatan yang dapat bekerja lintas aplikasi dan layanan digital secara mandiri. Teknologi tersebut dirancang untuk melakukan penalaran, mengambil keputusan, dan menjalankan serangkaian tugas tanpa harus menerima instruksi satu per satu dari pengguna.
Dalam praktiknya, agentic AI diproyeksikan mampu membantu aktivitas harian secara lebih proaktif. Misalnya, sistem dapat membantu merencanakan perjalanan, mengatur jadwal rapat, merespons email, hingga melakukan pencarian dan pembelian produk secara otomatis.
Google menilai perubahan tersebut akan mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi digital. Jika selama ini mesin pencari hanya menampilkan daftar tautan informasi, ke depan AI akan bertindak layaknya asisten digital yang mampu menyelesaikan tugas secara langsung.
Pichai mengatakan pengalaman penggunaan AI nantinya akan berkembang menjadi percakapan berkelanjutan yang lebih natural. Sistem akan memahami kebutuhan pengguna secara lebih mendalam dan memberikan solusi yang lebih personal.
Dalam konferensi Google I/O, perusahaan juga memperkenalkan sejumlah teknologi baru yang mendukung pengembangan agentic AI. Salah satu produk yang diperkenalkan adalah Gemini Spark, agen AI yang dirancang aktif selama 24 jam untuk membantu pengguna menjalankan berbagai aktivitas digital.
Google juga menghadirkan pembaruan AI pada layanan Search dengan fitur agen informasi yang lebih interaktif. Selain itu, perusahaan memperkenalkan pembaruan platform pengembangan AI bernama Antigravity untuk mendukung ekosistem teknologi berbasis AI generatif.
Meski optimistis terhadap masa depan agentic AI, Pichai mengakui pengembangan teknologi tersebut membutuhkan sumber daya yang sangat besar. Model AI otonom memerlukan kapasitas komputasi tinggi karena prosesnya sangat intensif terhadap penggunaan token dan daya pemrosesan data.
Karena itu, perusahaan teknologi global kini berlomba memperkuat infrastruktur pusat data dan pengembangan chip AI. Persaingan tersebut menjadi salah satu faktor utama dalam industri kecerdasan buatan saat ini.
Dalam wawancara terpisah dengan The New York Times, Pichai juga menyinggung perkembangan menuju Artificial General Intelligence (AGI). AGI merupakan konsep AI yang memiliki kemampuan berpikir dan memahami berbagai tugas setara atau bahkan melampaui manusia.
“Ada kemajuan yang tak terelakkan menuju AGI,” kata Pichai.
Meski demikian, ia tidak memberikan prediksi pasti mengenai kapan AGI akan tercapai. Namun, menurutnya, perkembangan AI dalam satu hingga dua tahun terakhir menunjukkan kemajuan yang jauh lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya.
Google saat ini menghadapi persaingan ketat di sektor AI dari berbagai perusahaan teknologi besar, termasuk OpenAI, Anthropic, hingga perusahaan AI asal China yang terus mempercepat inovasi mereka.
Pichai mengakui Google masih tertinggal dalam beberapa bidang tertentu, terutama AI untuk coding dan pengembangan agentic AI jangka panjang. Namun, ia menegaskan perusahaan terus mempercepat riset dan pengembangan untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
“Saya pikir kami sedikit tertinggal saat ini, tetapi kami bekerja sangat keras,” ujar Pichai.
Meski menghadapi persaingan ketat, Google dinilai memiliki keunggulan besar karena menguasai berbagai platform digital utama dunia. Ekosistem seperti Search, Android, Chrome, YouTube, dan Google Cloud memberikan perusahaan akses luas untuk mengintegrasikan teknologi AI secara langsung ke layanan yang digunakan miliaran orang.
Pichai menilai transformasi terbesar saat ini bukan hanya perkembangan AI itu sendiri, tetapi perubahan pola interaksi manusia dengan teknologi digital. Mesin pencari yang sebelumnya berbasis kata kunci kini mulai berkembang menjadi sistem percakapan yang lebih cerdas dan proaktif.
“Dalam mode AI dan mode agentic, sistem ini akan melakukan jauh lebih banyak hal untuk pengguna dibanding 10 tahun lalu,” katanya.
Di tengah optimisme tersebut, Pichai juga mengakui meningkatnya kekhawatiran masyarakat terkait dampak AI terhadap dunia kerja dan kehidupan sosial. Perkembangan AI yang sangat cepat memunculkan pertanyaan mengenai otomatisasi pekerjaan dan perubahan struktur industri global.
Menurut Pichai, kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar mengingat AI dipandang sebagai salah satu teknologi paling besar dan berpengaruh dalam sejarah perkembangan manusia.
“AI dipandang sebagai teknologi paling mendalam yang pernah dikerjakan umat manusia,” ujar Pichai.
Ke depan, Google diperkirakan akan terus memperluas integrasi agentic AI ke berbagai produk dan layanan digitalnya. Perusahaan juga diprediksi memperkuat investasi pada infrastruktur pusat data, model AI generatif, dan pengembangan teknologi AGI.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa industri AI kini memasuki fase baru, di mana sistem kecerdasan buatan tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu informasi, tetapi mulai berkembang menjadi agen digital yang mampu bekerja secara mandiri untuk membantu aktivitas manusia sehari-hari.
Baca Juga “Pencipta Linux Pusing Kebanjiran Laporan Bug dari AI“