Teknologi AI Perluas Akses Olahraga Cerdas di China

Teknologi AI

Teknologi AI Perluas Akses Olahraga Cerdas di China
Kecerdasan buatan (AI) tidak lagi hanya digunakan dalam kompetisi olahraga tingkat elite. Di China, teknologi tersebut mulai masuk ke aktivitas kebugaran sehari-hari, olahraga amatir, pelatihan, hingga sistem perwasitan.

Penerapan itu terlihat dalam China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) 2026 di Shougang Park, Beijing. Area pameran layanan olahraga diubah menjadi arena yang menunjukkan pemanfaatan AI untuk latihan, pertandingan, perwasitan, dan kebugaran.

AI Analisis Performa Pemain Tenis Secara Real Time
Salah satu demonstrasi berlangsung di lapangan tenis dalam ruangan. Pengunjung dapat mencoba sistem AI yang memantau pergerakan pemain, lintasan bola, titik jatuh bola, serta kecepatan pukulan.

Kamera merekam setiap reli secara langsung untuk menghasilkan data performa. Sistem kemudian mengolah informasi tersebut menjadi analisis permainan dan video sorotan secara otomatis.

Gao Kai, manajer operasional produk untuk sistem Smartshot, mengatakan teknologi tersebut dapat membantu pemain memahami performa mereka secara lebih mendalam.

Menurut Gao, sistem itu sudah diterapkan di sejumlah kota China, termasuk Beijing, Guangzhou, Shenyang, dan Yinchuan. Teknologi serupa juga mulai diperkenalkan ke Kanada, Australia, serta sejumlah pasar lainnya.

Sistem AI Bantu Wasit Ambil Keputusan
AI juga mulai memainkan peran dalam perwasitan. Salah satu contohnya berasal 2023 mengonfirmasi bahwa teknologi VAR dan sistem deteksi offside milik Rigour telah menjalani proyek di Rigour Technology, menjelaskan bahwa wasit manusia memiliki keterbatasan dalam menangkap seluruh detail pertandingan. Sistem AI dapat menyediakan tayangan ulang berdasarkan data untuk membantu proses pengambilan keputusan dari Rigour Technology yang mengembangkan sistem untuk membantu keputusan dalam pertandingan sepak bola.

FIFA pada 2023 mengonfirmasi bahwa teknologi VAR dan sistem deteksi offside milik Rigour telah menjalani pengujian. Teknologi tersebut juga telah disertifikasi sesuai standar FIFA.

Wu Guoyu, manajer proyek di Rigour Technology, menjelaskan bahwa wasit manusia memiliki keterbatasan dalam menangkap seluruh detail pertandingan. Sistem AI dapat menyediakan tayangan ulang berdasarkan data untuk membantu proses pengambilan keputusan.

Dalam kasus offside, sistem menganalisis rekaman kamera menggunakan model deep learning dan algoritma pemrosesan gambar. Ketika menemukan indikasi offside, sistem dapat menampilkan garis offside secara presisi pada tayangan pertandingan.

Teknologi Per. Pengembang teknologi mulai memperluas penerapannya ke turnamen amatir dan olahraga usia pertandingan amatir tidak memiliki wasit profesional. Dalam kondisi tertentu, pemain bahkan harus menentukan sendiriwasitan Mulai Menjangkau Olahraga Akar Rumput
Penggunaan AI tidak berhenti pada kompetisi profesional. Pengembang teknologi mulai memperluas penerapannya ke turnamen amatir dan olahraga usia muda.

Wu menilai kebutuhan tersebut cukup besar karena sejumlah pertandingan amatir tidak memiliki wasit profesional. Dalam kondisi tertentu, pemain bahkan harus menentukan sendiri apakah bola masuk atau keluar.

Situasi tersebut dapat memicu perdebatan selama pertandingan. Sistem perwasitan berbasis AI berpotensi menyediakan bantuan yang lebih objektif dan mudah diakses juga menunjukkan perubahan fungsi AI dalam olahraga. Teknologi tidak hanya membantu kompetisi profesional, tetapi.

Perluasan teknologi ke level akar rumput juga menunjukkan perubahan fungsi AI dalam olahraga. Teknologi tidak hanya membantu kompetisi profesional, tetapi mulai menjadi bagian dari ekosistem olahraga masyarakat.

Olahraga Virtual Perluas Akses Kebugaran
AI dan teknologi digital juga membuka peluang baru dalam olahraga rekreasi. Sejumlah aktivitas yang membutuhkan fasilitas khususairan. Sementara itu, olahraga ski membutuhkan salju serta fasilitas pend kini dapat disimulasikan melalui arena olahraga virtual.

Simulasi Dayung dan Ski Hadir di Berbagai Lokasi
Dayung dan kano secara tradisional membutuhkan akses ke perairan. Sementara itu, olahraga ski membutuhkan salju serta fasilitas pendukung yang tidak tersedia di semua wilayah.

Teknologi virtual memungkinkan aktivitas tersebut disimulasikan dalam lingkungan yang lebih mudah dijangkau. Pendekatan ini dapat membantu masyarakat berolahraga tanpa peserta pameran, mengatakan arena olahraga virtual dapat digunakan sebagai pusat kebugaran sekaligus lokasiubah konsep layanan olahraga. Penyedia layanan tidak lagi sekadar menawarkan produk, tetapi mulai menghadirkan solusi yang disesuaikan dengan berbagai kebutuhan dan bergantung sepenuhnya pada kondisi geografis atau fasilitas khusus.

Mei Zijia, salah satu peserta pameran, mengatakan arena olahraga virtual dapat digunakan sebagai pusat kebugaran sekaligus lokasi penyelenggaraan kompetisi olahraga virtual.

Menurutnya, perkembangan tersebut mengubah konsep layanan olahraga. Penyedia layanan tidak lagi sekadar menawarkan produk, tetapi mulai menghadirkan solusi yang disesuaikan dengan berbagai kebutuhan dan skenario olahraga.

Perdagangan Jasa Olahraga China Terus Bert industri jasa olahraga China mencatat pertumbuhan. Laporan perdagangan dan perkembangan jasa olahraga yang dirilis dalam CIFTIS mencatat nilai impor dan ekspor jasa olahraga utama mencapai 74,875 miliar yuan pada 202 bidang ekonomi di Administrasi Umum Olahraga China, mengatakan perdagangan jasa olahraga negara tersebut telah berkembang ke tingkat Pemerintah China berencana mempercepat penerapan big data dan AI untuk mendorong inovasi dalam China menunjukkan bahwa teknologi olahraga semakin bergerak dari kompetisi elite berpotensi membuat layanan olahraga lebih mudah diakses sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman pengguna. Namun, efektivitas teknologi tetap bergantung pada akurasi sistem, kualitas data, infrastruktur, dan pengawasanuang mengalami transformasi lebih lanjut. Fokusnya tidak hanya pada peningkatan prestasi atlet, tetapi juga pada penyediaan layanan olahraga yang lebih cerdas dan inklumbuh
Perkembangan teknologi turut berlangsung ketika industri jasa olahraga China mencatat pertumbuhan. Laporan perdagangan dan perkembangan jasa olahraga yang dirilis dalam CIFTIS mencatat nilai impor dan ekspor jasa olahraga utama mencapai 74,875 miliar yuan pada 2025.

Baca Juga “Mantan Peneliti DeepMind Bergabung dengan Semakin Banyak Pihak yang Memperingatkan Risiko Superintelligence“

Angka tersebut meningkat 7,98 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin besarnya peran jasa dalam ekosistem industri olahraga China.

Yang Xuedong, direktur bidang ekonomi di Administrasi Umum Olahraga China, mengatakan perdagangan jasa olahraga negara tersebut telah berkembang ke tingkat yang lebih tinggi.

Ia juga menyebut struktur perdagangan mengalami peningkatan signifikan seiring perkembangan ekonomi olahraga. Pemerintah China berencana mempercepat penerapan big data dan AI untuk mendorong inovasi dalam industri olahraga.

AI Dorong Transformasi Olahraga di China
Penerapan AI di China menunjukkan bahwa teknologi olahraga semakin bergerak dari kompetisi elite menuju aktivitas masyarakat umum. Analisis performa, bantuan perwasitan, olahraga virtual, dan layanan kebugaran menjadi beberapa contoh penerapannya.

Perkembangan tersebut berpotensi membuat layanan olahraga lebih mudah diakses sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman pengguna. Namun, efektivitas teknologi tetap bergantung pada akurasi sistem, kualitas data, infrastruktur, dan pengawasan manusia.

Dengan dukungan big data dan AI yang terus diperluas, sektor olahraga China berpeluang mengalami transformasi lebih lanjut. Fokusnya tidak hanya pada peningkatan prestasi atlet, tetapi juga pada penyediaan layanan olahraga yang lebih cerdas dan inklusif.

Baca Juga “Mengapa AI dicemaskan akan mengancam umat manusia dan seberapa nyata kekhawatiran itu?“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *