UNICEF: Penggunaan AI Anak 3 Kali Lipat Dibanding Dewasa

UNICEF

UNICEF: Penggunaan AI oleh Anak Lebih dari Tiga Kali Lipat Dibanding Dewasa

Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengungkapkan bahwa anak-anak mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) jauh lebih cepat dibanding orang dewasa. Temuan ini menegaskan bahwa AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak, sekaligus menghadirkan peluang dan risiko yang memerlukan tata kelola yang lebih kuat.

Temuan tersebut disampaikan UNICEF pada Selasa (30/6) menjelang penyelenggaraan Dialog Global pertama mengenai Tata Kelola AI. Lembaga itu menilai perkembangan AI berlangsung sangat cepat dan telah memengaruhi cara anak belajar, mencari informasi, hingga berinteraksi di ruang digital.

Penggunaan AI oleh Anak Terus Meningkat, UNICEF Soroti Risiko dan Perlindungan

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari 10 negara, UNICEF memperkirakan sedikitnya 20 juta anak telah menggunakan teknologi AI. Angka itu menunjukkan tingkat pemanfaatan AI oleh anak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kelompok orang dewasa.

Selain itu, lebih dari dua juta anak, atau sekitar satu dari 10 responden, mengaku memanfaatkan AI untuk memperoleh saran dan jawaban atas berbagai pertanyaan yang mereka hadapi. Sementara itu, sekitar 13 juta anak menggunakan AI untuk membantu proses belajar, mengerjakan tugas sekolah, serta mendukung aktivitas pendidikan lainnya.

Baca Juga “Era AI: Saatnya Ruang Belajar Berubah Menjadi Ruang Kerja

UNICEF menilai AI telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan tumbuh kembang anak. Teknologi tersebut dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara tepat, namun juga berpotensi menimbulkan dampak negatif jika tidak diimbangi dengan perlindungan yang memadai.

Dalam pernyataannya, UNICEF menegaskan bahwa anak-anak kini semakin sering berinteraksi dengan sistem AI. Mereka terpapar pada cara kerja teknologi tersebut, model bisnis yang mendukungnya, hingga penggunaan data pribadi mereka. Di sisi lain, anak-anak memiliki kemampuan yang jauh lebih terbatas untuk menghindari atau menolak dampak dari sistem tersebut.

Lembaga itu juga mengingatkan bahwa anak merupakan kelompok yang paling cepat merasakan konsekuensi dari lemahnya tata kelola AI. Dampak tersebut diperkirakan akan memengaruhi kehidupan mereka dalam jangka panjang seiring semakin luasnya penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Survei UNICEF menunjukkan sekitar sepertiga anak di 10 negara menyampaikan kekhawatiran terhadap penyalahgunaan AI untuk penipuan, manipulasi, serta penyebaran informasi palsu. Kekhawatiran ini menunjukkan meningkatnya kesadaran anak terhadap risiko yang muncul di ruang digital.

Di sisi lain, sekitar seperempat responden mengaku khawatir foto maupun video mereka dapat dimanipulasi menjadi konten deepfake yang bersifat eksplisit secara seksual. Risiko tersebut dinilai semakin besar karena teknologi AI generatif kini mampu menghasilkan konten digital dengan kualitas yang semakin realistis.

UNICEF menilai masih banyak layanan AI yang dapat diakses anak tanpa mekanisme perlindungan yang memadai. Lembaga tersebut menekankan bahwa aspek keselamatan sering kali belum menjadi prioritas utama dalam pengembangan maupun penerapan teknologi AI.

Karena itu, UNICEF mengajak pemerintah, perusahaan teknologi, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menempatkan hak-hak anak sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan tata kelola AI di tingkat global.

Lembaga tersebut merekomendasikan sejumlah langkah, termasuk meningkatkan penelitian mengenai dampak AI terhadap anak, memperkuat regulasi untuk mencegah eksploitasi seksual berbasis AI, memastikan pengembangan AI yang aman dan transparan, memperluas literasi AI, serta mengurangi kesenjangan digital agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara lebih merata.

Secara global, berbagai organisasi internasional juga mulai mendorong penerapan prinsip AI yang bertanggung jawab. Pendekatan tersebut menekankan pentingnya perlindungan privasi, transparansi, keamanan data, serta pengawasan terhadap penggunaan AI, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.

UNICEF menegaskan bahwa keputusan yang diambil saat ini akan menentukan bagaimana AI memengaruhi keselamatan, privasi, kesejahteraan, serta akses anak terhadap berbagai peluang di masa depan. Menurut lembaga tersebut, tata kelola AI yang kuat menjadi kunci agar perkembangan teknologi mampu memberikan manfaat tanpa mengorbankan hak dan perlindungan anak.

Baca Juga “Komdigi & UB Kembangkan Sistem AI untuk Sekolah Rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *